
Nyanyi Dangdut: Semalam sedap sekali.. entar malam sekali lagi...
Contoh-contoh kasus serupa juga banyak terjadi, dan tidak hanya di dominasi mereka yang berkulit gelap saja dan mereka yang berseragam saja. Mereka yang berstatus staff peacekeepers sipil dan juga mereka yang berambut pirang itupun tidak dipungkiri juga ada yang bertabiat serupa. Semua berpulang pada individu masing-masinglah kalau soal yang satu ini.
Namun demikian, tetap pengecualian selalu ada.. bahwa tidak semua kok yang doyan dengan "variasi nyasar" begini. Pengecualian dimana memang cinta lokasi itu benar terjadi dan tulus serta status keduanya adalah sama-sama lajang. Selain itu juga, banyak diantara kita-kita di lapangan yang bersabar hati dan terus berupaya teguh dalam hal "relationship fidelity" ini. Tidak sedikit jumlahnya mereka yang rutin mengambil jatah cuti yang diberikan pihak administration misi bahwa tiap 8 minggu sekali, bagi staff misi berhak untuk mengambil cuti keluar daerah operasi dan banyak yang terbang mudik ke kampung/negara asalnya... melepas rindu dan berjumpa sanak-famili.
Semoga kita semua yang bertugas di sini, dimana si hidung pesek-nya masing-masing menunggu di tanah air dapat mampu sabar dan berhasil menjalani tantangan ini. (Amin!).
Sambil melihat deretan tanggal pada kalender itu.. hm.. ternyata jadwal saya masih jauh. Meski hati ini rasanya pengen sudah langsung lompat ke pesawat dengan penerbangan berikutnya!
Terlepas dari itu semua, hubungan jarak jauh, apapun itu musabab dan latar belakang yang mendorongnya, adalah sebuah tantangan besar bagi kedua pemain-nya. Bila salah satu berperangai tidak bijak dan meresikokan-nya dengan beberapa variasi nyasar, cepat atau lambat akan menjadi bumbu perpecahan dikemudian hari.
Si Kampret ini juga harus berkaca benar, bahwa dirinya pun tidaklah berada dalam situasi yang lebih baik dari mereka itu - karena masih berada dalam kondisi terpisah dengan belahan jiwa dan 2 permata hatinya dimana mereka berada ribuan mil jaraknya dan perbedaan waktu yang menjulang menghadang diantara keduanya.
Argh! - sebuah tamparan keras..
Mungkin selepas acara berfoto-ria itu, pertanyaan selanjutnya dari si Mbakyu.. sebutlah dia namanya: Juleha Koulehe kepada si Mas Ireng berseragam dan berbekal bedil itu:
“Mas, minggu depan sampeyan kelar tugas dan balik ke negaramu, trus bagaimana dengan kita?”
Piye iki, Mas?
Wah, kalau udh begini nih.. saya minta tolong kalian saja meneruskan percakapan mereka seterusnya deh.. (ayo bantu saya melengkapi percakapan ini!).
PS: Bunda, Gua rindu banget ama kamu, tau!~
Kampret Nyasar @ Wednesday, May 14, 2008
Bathin ini mah kemudian berkata: Gelo pisan tuh 2 kampret ini!. Gua dijadiin domestic assistant mereka, setaaan!
Belum lagi alasan-alasan lain yang mereka rasa cukup piawai untuk berkelit dari kewajiban urusan rumah lain-nya terutama mengurus pembelian solar buat si genset, agar malam-malam kita bisa diterangi lampu dan mesin penyejuk udara di kamar-kamar tidur itu bisa berhembus sejuk. Jadi si Kampret ini gak perlu harus tidur pake kolor doang karena kepanasan kalau-kalau pasokan solar telat dikirim.
Nah Itulah beberapa argument mereka itu. Ok, kalau begitu saya juga bisa ? That?s it no more Mr. Nice Guy!
Eh bener juga kejadian!! - Si genset dirumah selama 5 hari (setelah itu), jadi batuk-pilek-dan-kemudian-bengek-stadium-akut. Meski disiang harinya satu pasukan khusus kampret ireng itu (Maksudnya: Mekanik Genset -Orang Liberia) datang dan sibuk ngutak-atik bak dokter ahli bedah berusaha mengoperasi genset yang segede sapi dewasa itu.
Ah, Kacaulah pokoknya! - Ini semua perpaduan antara si genset itu memang (mungkin) sudah "ucutan" (Baca: Rontok atau uzur umurnya) dan kiriman solar yang telat. Si Kampret ini juga maleslah selalu terus-terus yang jadi kambing dogol sibuk ngurusin beginian.
Walhasil, beberapa makanan dalam freezer jelas rusak membusuk semua (wong 5 hari gak ada listrik), saat pintu kulkas dibuka, aromanya pas sekali untuk bikin orang semaput ditempat.
Memang bagi kebanyakan dan sudah jadi sifat dasar manusia, dimana pada saat terbentur masalah atau dihadapkan pada sebuah event/kejadian barulah reaksi bertindak itu kemudian muncul, akibat terlalu lama berdamai dengan kenyamanan. Sebuah pelajaran juga buat diri ini bahwa merasa nyaman (kelamaan) itu tidaklah baik. Hingga pada saat sebuah situasi darurat membuatnya menjadi tidak sigap. Kejadian ini juga merupakan peringatan keras agar diri ini senantiasa memperbaharui upaya diri untuk menunaikan perubahan-perubahan besar kedepan. Termasuk itu relokasi, menggencarkan usaha perihal career mobility.
No, I must intensify my efforts.. I should not be afraid of change as change is good. A positive change is a must to stay in competitive edge, and on top of that the ones back home has been a priority.
It is important that I must repay back all the years I've been away from them.
Seminggu berselang sudah, dimana blog entry ini diketuk dari sebuah kamar tidur yang sedikit lebih kecil dari sebelumnya. Kebetulan dengan koneksi internet yang tersedia langsung tinggal colok dan jreeeng!.. wuzzz.wuzzz! kencengnya cukup terasa dan bisa dikatakan lumayan kencang ketimbang laju Bajaj mogok itu.
Berikut beberapa jepretan tentang rumah & kamar baru ini:


Di rumah akomodasi yang baru ini, meski jaraknya agak jauh, ketenangan bathin dan pikiran dari urusan sakit kepala perihal domestic sebelumnya. Kawan serumahnya adalah 3 orang bapa-bapa senior, baik dari segi umur dan jabatan yang dipangkunya dalam jajaran management mission ini. Meski jarang sekali bertemu dirumah, kita saling menghargai privasi masing-masing, ramah dan cukup membantu/membuat nyaman kedatangan si Kampret ini sebagai keluarga baru mereka.Meminjam nasehat yang pernah saya pernah dengar dari seorang mamang-mamang bakso di kampung dulu bahwa:
Cep, Manuver besar itu berawal dari langkah-langkah kecil..
Sepertinya benar juga kata si mamang penjual bakso itu. Semoga dengan kepindahan indekost si kampret ke rumah kontrakan baru ini bisa mendukung manuver besar yang diupayakan ini.
Bunda, Alif dan Abigail - terus doakan yah agar kita bisa pindah sama-sama. Saya rindu sekali untuk bisa ngobrol-ngobrol di tempat tidur berempat dari pagi hingga siang seperti dulu.
Kampret Nyasar @ Thursday, May 08, 2008
Luigi Pralangga, a UN staff member, currently serving the peacekeeping mission in Liberia - West Africa.
Copyright©2006
[My African Journey]
All rights reserved.
Reproduction in whole
or in part without permission
is prohibited.