logo
and the story continues...

pralangga.blogspot.com

  My Peacekeeping Journey...
linktoluigi
pralangga.org

Mas - lalu kita ini bagaimana?


Mas, Foto dulu dong..biar aku ada kenang-kenangan nih..
Okelah, neng kalau gitu.. apa sih yang enggak buat kamu.. ntar suruh si kopral dulu..
Hei, Kopral Jono, mari sini sebentar..
Siap Sersan!, ada perintah?
Tolong ambilkan foto kita berdua dulu..
Siap, laksanakan..
Keliatan nggak kita berdua disitu?
Siap, Belum keliatan Sersan!
Dibuka dulu dong tutup lensa-nya, bagaimana sih?
Siap, sudah kelihatan sekarang.. satu.. dua..
“click!”


Mungkin sulih-suara diatas cukup pas menggambarkan adegan dari foto diatas. Kurang-lebihnya lah.. namanya juga nebak-nebak. Dari jarak sekitar 100 meteran, si kampret ini berdiri jauh dari mereka dengan lensa 400mm ini, tertangkaplah adegan pose mereka itu.

Yang jelas, saya kenal betul bahwa mereka yang berseragamitu berasal dari kontingen bersenjata Nigeria yang bertugas sebagai peacekeepers pada misi PBB di Liberia. Bagi pasukan yang tergabung dalam sebuah kontingen bersenjata, paling tidak masa dinas selama 6 bulan hingga 1 tahun adalah periode tugas yang pasti. Dimana pada masa-masa dinas itu, mereka berada di daerah operasi, baik di tempatkan di pedalaman Liberia dan/atau di Monrovia. Sudah pasti malam-malam itu dilalui tanpa adanya si doi disebelah ranjang.

Memang faktanya bahwa manusia itu diciptakan sebagai mahluk sosial, dan cenderung berpasang-pasangan. Tidak dipungkiri bahwa separation atau perpisahan ini, menimbulkan tantangan pada pasangan individu-individu itu, baik si kampret yang sedang bertugas dan/atau pasangan-nya dibelahan bumi lainya.

Tidak sedikit dari mereka yang kemudian mencoba untuk “menjelajah” dan menjalin sebuah hubungan setempat, yang cukup umum dikenal dengan istilah “domestic partnership” – seperti jepretan diatas itulah gambaran-nya.



Nyanyi Dangdut: Semalam sedap sekali.. entar malam sekali lagi...


Contoh-contoh kasus serupa juga banyak terjadi, dan tidak hanya di dominasi mereka yang berkulit gelap saja dan mereka yang berseragam saja. Mereka yang berstatus staff peacekeepers sipil dan juga mereka yang berambut pirang itupun tidak dipungkiri juga ada yang bertabiat serupa. Semua berpulang pada individu masing-masinglah kalau soal yang satu ini.

Namun demikian, tetap pengecualian selalu ada.. bahwa tidak semua kok yang doyan dengan "variasi nyasar" begini. Pengecualian dimana memang cinta lokasi itu benar terjadi dan tulus serta status keduanya adalah sama-sama lajang. Selain itu juga, banyak diantara kita-kita di lapangan yang bersabar hati dan terus berupaya teguh dalam hal "relationship fidelity" ini. Tidak sedikit jumlahnya mereka yang rutin mengambil jatah cuti yang diberikan pihak administration misi bahwa tiap 8 minggu sekali, bagi staff misi berhak untuk mengambil cuti keluar daerah operasi dan banyak yang terbang mudik ke kampung/negara asalnya... melepas rindu dan berjumpa sanak-famili.

Semoga kita semua yang bertugas di sini, dimana si hidung pesek-nya masing-masing menunggu di tanah air dapat mampu sabar dan berhasil menjalani tantangan ini. (Amin!).

Sambil melihat deretan tanggal pada kalender itu.. hm.. ternyata jadwal saya masih jauh. Meski hati ini rasanya pengen sudah langsung lompat ke pesawat dengan penerbangan berikutnya!

Terlepas dari itu semua, hubungan jarak jauh, apapun itu musabab dan latar belakang yang mendorongnya, adalah sebuah tantangan besar bagi kedua pemain-nya. Bila salah satu berperangai tidak bijak dan meresikokan-nya dengan beberapa variasi nyasar, cepat atau lambat akan menjadi bumbu perpecahan dikemudian hari.

Si Kampret ini juga harus berkaca benar, bahwa dirinya pun tidaklah berada dalam situasi yang lebih baik dari mereka itu - karena masih berada dalam kondisi terpisah dengan belahan jiwa dan 2 permata hatinya dimana mereka berada ribuan mil jaraknya dan perbedaan waktu yang menjulang menghadang diantara keduanya.

Argh! - sebuah tamparan keras..

Mungkin selepas acara berfoto-ria itu, pertanyaan selanjutnya dari si Mbakyu.. sebutlah dia namanya: Juleha Koulehe kepada si Mas Ireng berseragam dan berbekal bedil itu:



“Mas, minggu depan sampeyan kelar tugas dan balik ke negaramu, trus bagaimana dengan kita?”


Atau mungkin pertanyaan itu diatas lebih pas bila digambarkan dengan foto dibawah ini.

Piye iki, Mas?


Wah, kalau udh begini nih.. saya minta tolong kalian saja meneruskan percakapan mereka seterusnya deh.. (ayo bantu saya melengkapi percakapan ini!).

PS: Bunda, Gua rindu banget ama kamu, tau!~

Kampret Nyasar @ Wednesday, May 14, 2008

Manuver besar itu berawal dari langkah-langkah kecil ini : Pindah Indekos!


Debu-debu itupun ramai beterbangan, dan beberapa kardus kosong ramai bergelatakan ditengah kamar tidur ini. Ramainya si debu itu, kampret ini akhirnya gak tahan juga kemudian bersin-bersin. Memang ketahuan juga jorok atau kurang resiknya kinerja pembantu RT saat kita memindahkan perabot rumah tangga dari sudut ruang itu ke posisi sudut sebelah sana. Namun kali ini, perabot itu tidak untuk digeser dan dipindahkan letaknya, namun di bongkar dan dimasuk-masukan kedalam dus, karena si empunya perabot ini memutuskan untuk pindah keluar dari rumah kontrakan yang selang 2 tahunan lebih ini setia ngekos (baca: ber-indekost), menambah tebal dompet/kantong si juragan kontrakan itu.



Cukup!, teriak bathin ini..Beberapa alasan memang menjadi pendorong utama niat hijrah ini..
Tiga dari beberapa diantaranya adalah, Pertama - tabungan sabar ini sudah habis terkuras untuk harus bertahan nge-kos dengan gangguan rutin perihal pasokan listrik dari Genset (Generator Diesel) yang terkenal rajin terserang batuk-pilek, apalagi diwaktu hari sudah gelap.


Kedua, salah satu dari kita bertiga, selalu cuap-cuap hampir setiap pagi mau berangkat kerja ke telinga ini bahwa: "Saya mau pindah dari rumah ini.. saya sudah bosan tinggal disini.. capek sekali saya tiap pagi bangun terasa letih mendengar berisiknya suara generator itu..bla..bla..bla.." (eh, tapi 4 bulan berjalan, dia nggak pindah-pindah juga!)


Lalu Ketiga, kerjasama kampret penghuni rumah kontrakan itu sudah dirasa tidak kondusif lagi -kata sayah mah!. Jelas sekali, 2 kampret penghuni lainya itu sudah tidak begitu perduli lagi akan perihal mengurus keperluan rumah, seperti mengurus pembelian solar dan memeriksa pengiriman solar saat truk tangki yang sege gajah bengkak itu datang ke rumah, yang notabene biasanya pada jam ngantor (kerja)?. Jadi harus ada yang bersedia nyetir dari kantor menuju ke rumah, meluangkan waktu barang 45 - 60 menit extra.
Serta beberapa perihal ini itu - dimana si pembokat ini selalu datang laporan (dengan bahasa yang sudah diterjemahkan):
  1. Den Mas, detergent abis dan gak ada sisa ama sekali - saya udah bilang sama si pirang berhidung mancung (Kampret No. 2) itu, tapi gak gablek aja.. ?
  2. Den Mas, beberapa bohlam (baca: Lampu pijar) di dapur dan garasi sudah lama putus, saya udah laporan sama si kampret buncit (Kampret No. 3)itu, katanya suruh minta duitnya ke Den Mas aja..
  3. Den Mas, mesin cuci itu udah nggak mau muter lagi, sepertinya harus direparasi dulu, kata si pirang berdada mancung itu, eh salah.. berhidung mancung. Dia bilang suruh laporan ke Den mas aja - dia bilang beliin dulu karet pemutarnya nanti digantiin, ohya, juga makanan buat si meong itu udah abis..

Bathin ini mah kemudian berkata: Gelo pisan tuh 2 kampret ini!. Gua dijadiin domestic assistant mereka, setaaan!

Belum lagi alasan-alasan lain yang mereka rasa cukup piawai untuk berkelit dari kewajiban urusan rumah lain-nya terutama mengurus pembelian solar buat si genset, agar malam-malam kita bisa diterangi lampu dan mesin penyejuk udara di kamar-kamar tidur itu bisa berhembus sejuk. Jadi si Kampret ini gak perlu harus tidur pake kolor doang karena kepanasan kalau-kalau pasokan solar telat dikirim.

  • Sudahlah kamu saja - khan kantor mu lebih dekat dari saya..
  • Waduh saya nggak bisa - saya sedang sibuk!
  • Minggu depan deh gantian..!(boong bener!)
  • Ya sudahlah..saya jalan kerumah.. @%#@^#%@^#%!!@#$$!!!!! (Maksudnya pake misuh-misuh gitu deh.. ? Norak!)

Nah Itulah beberapa argument mereka itu. Ok, kalau begitu saya juga bisa ? That?s it no more Mr. Nice Guy!


Eh bener juga kejadian!! - Si genset dirumah selama 5 hari (setelah itu), jadi batuk-pilek-dan-kemudian-bengek-stadium-akut. Meski disiang harinya satu pasukan khusus kampret ireng itu (Maksudnya: Mekanik Genset -Orang Liberia) datang dan sibuk ngutak-atik bak dokter ahli bedah berusaha mengoperasi genset yang segede sapi dewasa itu.

Ah, Kacaulah pokoknya! - Ini semua perpaduan antara si genset itu memang (mungkin) sudah "ucutan" (Baca: Rontok atau uzur umurnya) dan kiriman solar yang telat. Si Kampret ini juga maleslah selalu terus-terus yang jadi kambing dogol sibuk ngurusin beginian.

Walhasil, beberapa makanan dalam freezer jelas rusak membusuk semua (wong 5 hari gak ada listrik), saat pintu kulkas dibuka, aromanya pas sekali untuk bikin orang semaput ditempat.

Atas budi baik Bapak-bapak Military Observer Garuda XXI5, melalui ijin Mas Agung - saya diperbolehkan indekos sementara di rumahnya, sambil giat cari-cari kontrakan/indekost baru - sementara genset jadi turun-mesin, serta mereka (Kampret No. 2 & 3) juga ngungsi kerumah kawan-nya - numpang nginep di sofa ruang tamu dan sambil sakit2 punggung katanya.

Memang bagi kebanyakan dan sudah jadi sifat dasar manusia, dimana pada saat terbentur masalah atau dihadapkan pada sebuah event/kejadian barulah reaksi bertindak itu kemudian muncul, akibat terlalu lama berdamai dengan kenyamanan. Sebuah pelajaran juga buat diri ini bahwa merasa nyaman (kelamaan) itu tidaklah baik. Hingga pada saat sebuah situasi darurat membuatnya menjadi tidak sigap. Kejadian ini juga merupakan peringatan keras agar diri ini senantiasa memperbaharui upaya diri untuk menunaikan perubahan-perubahan besar kedepan. Termasuk itu relokasi, menggencarkan usaha perihal career mobility.

4 tahun sudah berlalu dimana si kampret ini dulu cukup kompeten beradaptasi saat peacekeeping mission ini masih berada dalam stage: start-up hingga berkesinambungan pulih, aman dan terkendali. Diri ini sudah tidak lagi segesit sebelumnya, dan mulai merasa nyaman dan mulai terlupa akan master roadmap ini.

No, I must intensify my efforts.. I should not be afraid of change as change is good. A positive change is a must to stay in competitive edge, and on top of that the ones back home has been a priority.

It is important that I must repay back all the years I've been away from them.

Seminggu berselang sudah, dimana blog entry ini diketuk dari sebuah kamar tidur yang sedikit lebih kecil dari sebelumnya. Kebetulan dengan koneksi internet yang tersedia langsung tinggal colok dan jreeeng!.. wuzzz.wuzzz! kencengnya cukup terasa dan bisa dikatakan lumayan kencang ketimbang laju Bajaj mogok itu.

Berikut beberapa jepretan tentang rumah & kamar baru ini:


Di rumah akomodasi yang baru ini, meski jaraknya agak jauh, ketenangan bathin dan pikiran dari urusan sakit kepala perihal domestic sebelumnya. Kawan serumahnya adalah 3 orang bapa-bapa senior, baik dari segi umur dan jabatan yang dipangkunya dalam jajaran management mission ini. Meski jarang sekali bertemu dirumah, kita saling menghargai privasi masing-masing, ramah dan cukup membantu/membuat nyaman kedatangan si Kampret ini sebagai keluarga baru mereka.

Meminjam nasehat yang pernah saya pernah dengar dari seorang mamang-mamang bakso di kampung dulu bahwa:

Cep, Manuver besar itu berawal dari langkah-langkah kecil..

Sepertinya benar juga kata si mamang penjual bakso itu. Semoga dengan kepindahan indekost si kampret ke rumah kontrakan baru ini bisa mendukung manuver besar yang diupayakan ini.

Bunda, Alif dan Abigail - terus doakan yah agar kita bisa pindah sama-sama. Saya rindu sekali untuk bisa ngobrol-ngobrol di tempat tidur berempat dari pagi hingga siang seperti dulu.

Kampret Nyasar @ Thursday, May 08, 2008

Profile

Luigi Pralangga, a UN staff member, currently serving the peacekeeping mission in Liberia - West Africa.

Messages


Just Updated

Archieves

Links

The Additionals

Enter your email address below to subscribe to My African Journey!


powered by BlogLet!



Becoming UN Volunteer? Come here!


Copyright©2006
[My African Journey]
All rights reserved.
Reproduction in whole
or in part without permission
is prohibited.

hits.