logo
and the story continues...

pralangga.blogspot.com

  My Peacekeeping Journey...
pralangga.org

Kalut ajal menjemput dan rindu tak berbalas


Musim hujan di Liberia, biasanya diawali sejak bulan May dan deras curahan hujan terbesar umumnya terjadi pada bulan Juni hingga July seperti sekarang ini. Buat saya pribadi, hujan itu adalah berkah, dengan catatan tidak dengan embel-embel banjir. Berbekal pengalaman tinggal dan bekerja di negeri si bau kelek ini semenjak tahun 2004, hal yang paling membencikan adalah hujan pada malam hari, yang ini sudah menjadi tabiat kebiasaan cuaca di Monrovia. Mengapa membencikan?.. karena selain deras sekali si curah hujan mendera atap rumah kontrakan dimana si kampret ini tinggal, sudah terbayang ramainya gemeretak suara hempasan air hujan itu terhadap atap seng, yang notabene persis seperti bunyi dentuman senapan mesin otomatis itu: "Ratatatatatatatatat..." - terus menerus selama 1 hingga 2 jam.. belum lagi gelegar halilintar/guntur yang bersahutan tiada henti.


Namun bukanlah itu yang menjadikan hati ini menjadi kesal, remuk dan membiru dibuatnya, adalah tidak lain dari kesendirian yang mengigit hingga terus merasuk kedalam sumsum tulang ini. Ya, perihal itulah yang sangat membencikan hati si kampret ini. Dengan perbedaan waktu yang menjulang hampir 7 jam dengan waktu di tanah air, pada saat seperti itu si kampret hanya bisa berupaya menelpon si idung pesek di kampung seberang samudra sana, tidak bisa berlama-lama lantaran pertimbangan tagihan sambungan telepon internasional dan ia pun sudah mulai disibukkan dengan urusan sakit kepala pagi hari mempersiapkan kedua krucil itu berangkat sekolah sembari memandikan si pria botak bermata genit itu,



Jadi; "Maaf-maaf saja, juragan - kangenmu itu acapkali tidak berbalas..." - kira-kira begitulah ungkapan sinisnya.

Memang sudah cukup jarang akhhir-akhir ini si kampret ini menulis blog yang satu ini, selain kesibukan yang diakhir hari sudah menggemboskan kreativitas untuk menulis, ditambah lagi suasana hati yang cenderung lebih sering galau ketimbang ceria-nya, entah kenapa..  banyak sekali yang ingin dituangkan, namun sudha keburu buyar duluan setibanya dirumah, mendapati perut keroncongan dan mesti susah-payah memasak makan malam. Ah, andai saja si Sarah Susuna-Nangtung itu bekerja sampai malam, setiap kali buka kunci pintu dan masuk rumah selalu membayangkan ada seonggok hidangan diatas meja makan hangat tersedia - Huss.. buanglah mimpi itu, kamu ini di daerah misi, jadi serba prihatin dan nggak boleh ngeluh!.


Kira-kira beberapa hari lalu, lepas makan malam, hujan masih mengguyur terdengar deras sekali dari ruang makan, dan tidak jauh dari tempat duduk ini, terlihat air menggenang, wah ketahuanlah sebagian langit-langit sudah mulai meneteskan rembesan air hujan. Buru-buru mencari ember tidak ada, maka mangkuk dan piring makan pun jadilah menampung tetesan dari atap yang bocor itu, irama gemericik airnya pas sekali dengan alunan lagu India yang saat itu menemani santap malam.

Sudahlah hujan nggak berenti, atap terlihat banyak yang bocor, klo sekali 'ambiance'nya dengan nuansa lagu dangdut yang identik menggambarkan sebuah potret penderitaan. Teringatlah si kampret ini akan sebait lagu dangdut yang pernah ngetop jaman dia masih bercelana pendek (Baca: Anak SD), lupa nama judulnya apa namun bait lirik lagu yang masih teringat jelas adalah begini:


Aku rela walau hidup susah...
Aku rela walau menderita..
Asalkan kau sayang..
Asalkan setiaa...

Kira-kira begitulah.. entah mengapa kok jadi tiba-tiba benak ini memunculkan alunan melodi musik dangdut di kepala ini.. apa memang karena si kampret ini sedang merasa menderita ya?. Mungkin sekitar 30 menit-lah pikiran ini kok terus berusaha mengingat-ingat sisa bait lirik lagu dangdut itu - sepertinya lagu dangdut dikala hujan deras dan dimana kalbu sedang sendu stadium akut ini terasa nikmat sekali ya?. Maka si kampret ini sekitar jam 10 lepas sholat Isya berbaringlah diranjang dengan kesendiriannya.. Mekanisme rasio terus berupaya berperang terhadap serangan pada jiwa ini.




"It's gonna be allright.. the rain and thunder will subside soon.." - begitulah ucap didalam kepala ini, meski rasanya dada ini tertekan, dengan mencoba meredamnya dengan memeluk erat bantal dan menggulung diri dalam selimut. Andai saja si hidung pesek itu berada disebelah sisi ranjang ini, niscaya berkurang kekalutan kalbu ini. Apakah dirinya diseberang samudra sana itu merasa demikian?. Entahlah..

Ya, malam-malam macam beginilah yang benar-benar membencikan, apalagi hujan diluar masih deras sekali. Menatap langit-langit di kamar dan berusaha untuk tidur, namun otak ini tiada mau beristirahat dari berpikir, dan yang membuat hati ini kemudian menciut saat halilintar itu menggelegar tanpa pemberitahuan, maka berbaliklah badan ini memunggungi jendela sembari memejamkan kedua mata ini.



"Beledar..!!!... Beleeduuggggg... glluuuudugugugugguugggg !!!" - begitulah kira-kira gelegar petir dan guntur itu.. diraihlah si telepon genggam itu, sambil menekan tombol nomor si Idung pesek, namun sayangnya tiada tersambung telepon itu, memang bukan nasibnya saat itu bisa berbicara dengannya. SMS/Pesan singkat adalah salah satu alternatif, yang penting dia bisa faham kalau si kampret ini amat merindukannya dan sedang dilanda badai petir..


"Bun, saya rindu banget sama kalian.. hujan deras dan badai petir sekarang, saya lupa bacaan doa untuk/disaat ditengah badai.. ingetin lagi dong.. love you!"

Ternyata ngetik sms dikala hati sedang kalut sama sekali tidak mudah ya, tulisan jadi berantakan karena terburu-buru, lantaran petir itu nggak berenti-berenti sahut-menyahut. Nah, saat seperti itu juga, si kampret dihadapkan dengan sebuah gambaran kesendirian, dan ada satu lagi gambaran yang angan saat itu berusaha mengusirnya dari melintas di benak, yaitu: Kematian. Si kampret ini sudah pernah mengulas perihal serupa pada tulisan lawasnya disini.


Dari kejadian badai itu, harus diakui bahwa manusia itu senantiasa harus diperingatkan bahwa ada kuasa yang jauh lebih besar merajai atas dirinya, harus diberitahu bahwa dia punya kewajiban beribadah dan menunaikan kewajiban-kewajibannya selama hidup di dunia, termasuk itu meramut ahli famili-nya, dan satu hal yang tidak kalah penting lagi adalah; mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan bekal iman dan takwa, dimana kala kematian menjemput, kapan saja, dimana saja, sewaktu-waktu  - tidaklah menjadi kalangan yang merugi.

 


Diatas adalah salah satu jepretan kuburan pada sebuah kompleks pemakaman kota di Monrovia. Kematian, atau ajal, hanyalah semata rahasia Illahi.. dan disukai atau tidak, dia pasti datang menjemput, dimana saja kita berada, bahkan sampai ke-ujung Liberia pun sudah pasti tidak akan luput dari panggilan maut.



Ya Alloh, ampunilah dosa-dosa hambamu ini, saya berada jauh dari keluarga saat ini salah satunya adalah menunaikan tugas dengan juga mencari nafkah untuk keluarga. Lindungilah mereka di tanah air dan juga diri ini. Jauhkanlah kami dari api neraka, marabahaya, tetapkanlah kami dalam keimanan dan panggilah (ajal) kami juga dalam keimanan. Masukkanlah kami menjadi orang-orang yang engkau izinkan kedalam tengah-tengahnya surgamu. Amiin.



Alif, Abigail, Arjuna dan Bundaku.. mohon doakan selalu agar saya bisa segera bergeser dari Liberia dan bersama-sama tinggal satu atap dengan kalian, sebab saya pun rindu dan mencintai kalian lebih dari yang kalian tahu... dan Bunda, kamu faham benar akan hal itu.

Labels: , , , ,

Ksatrio Wojo Ireng @ Thursday, July 02, 2009

Pria botak bermata genit itu


Memang, kali ini adalah posting blog dengan judul yang aneh.. sayapun sudah hampir 1 jam cukup pusing untuk mencari judul yang cukup sesuai. Hampir saja si kampret ini memutuskan untuk minum obat sakit kepala. Seperti perumpamaan sebuah cangkir atau gelas, masing-masing dari kita adalah sebuah cangkir atau gelas yang pada satuan waktu tertentu mampu menampung curahan beban dan tekanan dalam kehidupan. Gelas dan cangkir itu acapkali digunakan untuk menampung minuman dingin serta hangat atau kadang minuman panas.

Dalam kehidupan kenyataannya, curahan beban dan derasnya tekanan terus dituangkan kedalam cangkir atau gelas tanpa henti-hentinya, yang sering kali kita mendengar rekan kerja, sahabat, atau malah suami/istri sering berteriak dan/atau mengeluh: "Cukup!, jangan terus kau tuangkan tekanan ini kepada saya.. sudah penuh rasanya dada ini dengan curahan tekanan itu..!" (Ungkapan seperti ini dan serupa mesti sudah bukan perkataan yang asing lagi, ya?).

Dulu dikala si kampret ini masih bercelana pendek dan menikmati hidup bak anak-anak SD, tidaklah begitu faham dengan istilah sang emak dikala kesabaran-nya sudah habis, diayunkan itu sapu lidi dan mendarat dibetis ini. memang sikampret ini adalah terkenal sebagai 'budak bangor' (baca: Anak nakal), yang malas mengerjakan pekerjaan rumah, namun rajin bermain layang-layang sampai kulit ini legam tersengat sinar mentari, belum lagi bau keringat yang hampir menyerupai kondektur bus metromini itu. Habis kesabaran - waktu itu belumlah cukup faham, seperti apa bentuk kesabaran itu? dan bagaimana caranya hingga ia bisa kemudian habis?, sungguh tidak terlihat oleh mata seorang bocah SD.

Dua puluh lima tahun kemudian, kini mengerti benar bagaimana kesabaran itu berbentuk dan kemudian bagaimana dia kemudian menguap. Saat kesabaran sudah terasa menipis, acapkali menjadikan rasa sesak di dada ini tiba-tiba muncul. Nah, gejala itulah yang kini menjangkit pada si kampret ini. Disaat badan ini sudah tidak lagi berkutat dengan pekerjaan di kantor, mendapati dirinya tiba di rumah, namun tiada terlihat sambutan dan peluk hangat si idung pesek dan gelayutan malaikat-malaikat kecil itu, disitulah rasa kesal dan sesak ini tiba untuk menghadang.
Ah, si kampret ini rindu yang amat sangat dengan mereka..
 Ya, harus diakui bahwa serangan rindu itu kini sudah mulai terasa pada stadium akut.

Serangan ini merayap dengan pasti dikala hari sudah mulai gelap, membuat dahi ini berkerut dan tatapan pada kedua mata ini kemudian menjadi panjang menerawang, maka teruslah dia merasuk kedalam hati membuatnya sesak. Tidak jarang rasa kesal ditengah malam itu akhirnya bermuara pada sebuah mimpi. Namun sayangnya si mimpi itu bukanlah cerita sang Sinderela dengan sepatu kaca yang akhirnya hidup kaya raya dan bahagia.  Mimpi apa sih kamu itu, 'mpret?.

Di mimpi itu; Si kampret ini seperti berada didalam sebuah shopping mall, dan dari kejauhan, ia melihat seorang wanita yang amat ia kenal dekat. Ia duduk sendirian, di sebuah kafe, sepertinya sedang menunggu seseorang.. dipikirnya siapakah gerangan orang yang ditunggunya itu?. Tidak lama kemudian, seiring beberapa langkah mendekat, si kampret mendapati ada sosok pria yang tinggi dan besarnya sebanding dengannya menghampiri si wanita itu dengan tersenyum... namun satu hal yang si kampret ini ingat benar dari sosok si pria botak ini adalah dia kedip-kedip terus dengan genit sekali, pokoknya norak dan menyebalkan sekali si kampret ini melihatnya dari kejauhan dan dalam hitungan kurang dari satu menit, bergegaslah mereka berangkat meninggalkan tempat duduk entah menghilang kemana..
Anjir!!, kemana mereka menghilang? 
 dan pertanyaan selanjutnya membuat hatinya gusar adalah: 
Siapakah gerangan kucing kurap yang pergi membawa serta si wanita itu? 
  
Ibarat detektif kampungan, si kampret ini menoleh celingak-celinguk ke kanan-ke kiri tanpa melihat jalan dan akhirnya menabrak tong asbak yang berdiri tegak di sisi pojok tikungan: Gubrak.. kerompyang.. !!! (gimana sih bunyi tong asbak stainless steel itu jatuh terbanting? - nah begitulah persisnya!).




Terbangun dengan posisi tidur kurang nyaman, si kampret ini mendapati dirinya terasa lelah dan penat sekali, berusaha membuka kedua mata dengan lebar, dan menyadari dirinya terbangun dariu mimpi yang tidak menyenangkan. berusaha keras mengingat-ingat apa saja detail cerita mimpi yang baru saja berlalu itu. Pagi itu sungguh ia dibuat gundah dan kesal hatinya, apakah sosok wanita yang ada di mimpi itu adalah si idung pesek di kampung halaman?.

Lirikan pada jam tangan, masih menunjukkan pukul 5 pagi. Disambarnya si ponsel itu dan ditekanlah tombol nomor tujuan di kampung itu, Saat awal tersambung, ingin rasanya berbicara langsung pada pokok pembicaraan. Suara pada ujung telepon itu terdengar ramai suara klakson dan lalu-lintas di jalan, nampaknya si idung pesek sedang ditengah mengemudi kendaraan.. hmm.. nampaknya dia sedang pergi menjemput si sulung pulang sekolah.

"Sebentar yah, sayang.. saya parkir mobil dulu.." - begitulah katanya. Namun dahi ini masih terus mengkerut-kerut. 

Lepas bertanya perihal urusan rutin, maka inilah dia pertanyaan pamungkas yang sudah tidak sabar lagi ingin disebutkan, sabodo amat nantinya akan ramai adu argumen, yang penting si kampret ini bertanya duluan.
"Apakah kamu punya urusan akrab dengan seorang pria botak bermata genit" - Itulah pertanyaan kampungan yang tercetus, tiada sangat terdapat sisi elegan dan bijak dari pertanyaan macam begitu, namun apa daya ruang jiwa ini sudah dirasuki emosi dan rasa sebal yang bukan kepalang dan baru bangun pula!.  Si kampret ini pun sudah bisa mencium jelas hawa nafas bangun pagi yang jauh dari wangi aroma sedap. 
Memang emosi membutakan rasio. Oke, kembali ke pertanyaan sontoloyo tadi, mari kita ulang ya... :-)

"Apakah kamu punya urusan akrab dengan pria botak bermata genit?" - tanya si kampret ini
"Haa...?" - balasnya dengan rasa heran setengah mati.

"Iya, kamu dengar saya jelas kok - saya ulang ya pertanyaan-nya apakah kamu punya urusan akrab dengan seorang pria berambut botak dan bermata genit...?" - Rasanya makin kesal hati itu untuk kembali mengulang pertanyaan bodoh itu..

"Maksudnya apa sih?" - balasnya dengan bernada agak tinggi dan bergeser dari rasa heran menjadi rasa kesal.

Disinilah nampaknya ujian bathin dan rasa cemburu menari-nari nan menawan didalam kalbu, persis seperti goyang penari perut dengan gemerincing gelang berisik di kaki2nya itu, runyam khan?.



(Udah mah hati ini sedang kesal) Bukannya dijawab dengan balasan yang menenangkan hati, malah terdengar di ponsel ini si idung pesek itu tertawa seraya membalas:

"Ooh, maksudnya kamu bertanya apakah saya punya pacar pria botak yang matanya genit itu...?" - Enteng sekali dia menjawab baliknya. Makin ingin mengamuk saja hati ini dibuatnya, dan ini adalah sambungan telepon internasional pula. Mau marah besar rasanya.

"Iya, that is exactly my question and the answer is...??" - Kedua alis ini pun ikut meliuk naik keatas sembari menunggu responsenya.

"Oh, tentu.. dia ada disamping saya nih.. sedang tidur pulas..", kata si Idung pesek dengan santai dan agak tertawa menjawabnya.

 "Eh, ini bukan becanda ya.. ini masalah serius, tau!??" - makin geramlah diri ini dibuatnya..

"Kamu juga kenal dengan dia juga.. dia memang rambutnya botak, dan matanya genit sekali dengan sepasang lesung pipit yang sudah banyak orang ingin sekali mencubit pipinya.. hahahahahaha!!"

Mendengar jawaban seperti itu, antara mau marah besar sambil berpikir keras, ini siapa sih orang yang dimaksudnya..? rambutnya memang botak, matanya genit dan ada 2 lesung pipitnya..?. Sambil berusaha mengingat-ingat kembali rawut wajah si pria botak bermata genit pada mimpi itu, sama sekali tidak ada 2 lesung pipitnya.. apakah ini gambaran orang yang sama?.

"Ah, sudah jangan main teka-teki segala, jawab aja yang bener dan siapa itu yang sedang tidur disebelahmu?"
 
"Hahahaha.. cemburu ceritanya nih..?, sabar dulu, boss... saya tidak punya pacar siapapun dan pria botak bermata genit ini tertidur pulas karena baru saja kelar menyusu.. dia adalah pria yang saya punya urusan akrab tiap hari.."



"Oooo... kenapa nggak bilangn dari tadi sih? Harus menunggu orang kesal dulu ya..!!?? - Lega benar hati ini mendengar penjelasan-nya.

Memang, pria-botak-bermata-genit-dengan-2-lesung-pipit-itu adalah Arjuna Rachman Kharisma Pralangga, yang genap berumur 8 bulan. Dia memang pria botak yang benar-benar mempunyai kedua mata yang genit sekali dan harus diakui bahwa banyak wanita yang gemas sekali ingin mencubit pipinya itu. Si kampret ini pun sudah rindu setengah mampus ingin memeluk dan menggendongnya, juga kepada kedua kakak-nya (Tidak ketinggalan juga terhadap bunda-nya mereka).


Sepertinya ini sudah menjadi tanda yang sangat jelas bahwa, saatnya untuk mudik dan berlibur di kampung halaman bersama keluarga, agar 2 pria botak sesuai foto diatas ini bisa kembali bertemu melepas rindu.

Labels: , , ,

Ksatrio Wojo Ireng @ Tuesday, June 09, 2009

Profile

Luigi Pralangga, a UN staff member, currently serving the peacekeeping mission in Liberia - West Africa.

Messages


Polling

Just Updated

Archieves

Links

The Additionals



Becoming UN Volunteer? Come here!




Enter your Email


Preview | Powered by FeedBlitz



Copyright©2006
[My African Journey]
All rights reserved.
Reproduction in whole
or in part without permission
is prohibited.

hits.