logo
and the story continues...

pralangga.blogspot.com

  My Peacekeeping Journey...
pralangga.org

Pilihlah aku karena paling murah (dan sering tulalit)


Siang itu matahari terbit dengan teriknya, entah setara dengan lampu sorot 1000 watt yang dihadapkan persisi didepan jidat ini, pokoknya berkerut habis bak kulit jeruk purut dah i si kampret ini dibuatnya. Belum selesai disitu, deretan kendaraan menjulur panjang tidak berujung, baik disisi belakang hingga terus kedepan. Entah apalagi godaan ditengah siang bolong ini menimpa diri. Terlihat dari sisi kaca spion itu, pengendara dibelakang mobil si kampret ini hanya berkali-kali mengangkat kedua tangannya dan memukulkannya pada dashboard itu. Sudah jelas nampaknya ia menyerukan segudang kata-kata sumpah serapah karena terjebak ditengah kemacetan. Sementara si kampret ini hanya bisa melongok ke kanan dan ke kiri, mencoba mencari tahu ada apa gerangan yang menyebabkan kemacetan lalu-lintas ini.

Membuka jendela, dengan maksud ingin menyapa orang yang berpapsan dari arah berlawanan. Begitu kaca jendela turun kebawah, langsunglah itu debu jalan menghempas ke muka: "Whuzzz!!!". Merem-meleklah si wajah dan mata ini dibuatnya, sambil memicingkan mata mencari orang yang terdekat agar bisa dipanggil untuk bertanya.

"E-mame, wazzap wi traffi, o?" - itulah tipikal sebutan dalam bahasa Inggris dengan logal super-ngaco bila ingin bertanya pada penduduk setempat. Seorang bocak belasan tahun dengan seonggok pisang yang terjemur terik dan menjadi layu kemudian mendekat, dia tahu bahwa si kampret ini memanggilnya.

Perasaan sih, si kampret berkata cukup lantang, namun entah mengapa si anak ini bukannya malah menjawab dengan informasi lalu-lintas yang ia saksikan saat dia masih didepan, malah berkata balik dengan sederhana:

"Ehee...?" - Gelo! - dalam hati.. kok malah dijawab dengan: "Ehee...?" berarti dia nggak dengar alias tulalit!, maka diulangilah pertanyaan tadi: "E-mame, wazzap wi traffi, o?" (Baca: Eh, mame.. ada apa dengan kemacetan ini?). Dengan bibir memble yang sedikit terbuka, dia butuh sekitar 5 detik untuk menjawab: "..bla..bla..bla..hhaaa..heee..hooo..". Sudah jangan ditanya apakah si kampret ini ingat apa yang dikatakannya. sumpah mampus nggak ngerti ini anak ngomong apa!. Si kampret kemudian cuman bisa seidkit senyum dan berkata: "Ok, thank you!" - lalu menutup kembali jendela kaca agarudara sejuk AC ini bisa kembali menghidupi wajah ini. Alamak, panasnya!.

Berkendara di Monrovia, memang butuh keahlian tersendiri, selain ahli manuver seperti khas nya supir bajaj di tanah air, bagi kita-kita para staff PBB di Liberia juga perlu menjadi seorang yang ahli sabar, mengapa?. Karena hal remeh sekecil apapun di jalur lalu-lintas bisa mengakibatkan kemacetan yang panjangnya bisa 1-2 km, eduun-men!!. Perut sudah keroncongan, hampir 15 menit berdiam tanpa maju sejengkal pun, sementara undangan rapat akan dimulai pukul 2.30, nah makan siang di kebanyakan restoran di Liberia itu biasanya dihabiskan dengan urutan waktu sbb:

1. Pesen makanan butuh 30 menit, mengapa? - karena pelayan-nya sangat lelet dan selalu manyun
2. Makan Siang maksimum 30 menit, mengapa? - sudah jangan ditanya! - masak main langsung di "glek" aja, gak mungkinlah!
3. Meminta bon untuk bayar butuh 30 menit, mengapa? - karena ya si pelayan-lelet itu

Jadi kebayangkan betapa kesel-nya kalau harus sudah dipotong dengan macet nggak jelas begini. Anyhow, akhirnya untaian kendaraan itu maju perlahan-lahan sampai pada satu jarak dimana si kampret ini melihat kerumunan orang di tengah jalan, memakan porsi bagian kendaraan untuk lalu-lalang ini. Dalam hati pun berkata; "Pantes, ada kecelakaan lalu-lintas rupanya.." - dimana disisi pinggir kanan ada sebuah truk trailer dengan bak terbuka parkir  yang dikelilingi oleh segudang orang-orang.

Namun semakin dekat mobil yang dikendarai si kampret ini mendekati daerah kerumunan, kok makin santer terdengar musik khas Liberia ini dengan suara meledug-ledug (baca: Berdentum meledak-ledak) persis suara pecah dari loud speaker macam pagelaran layar-tancap jaman dulu di kampung. Ini ada apa ya? mengapa kok kecelakaan lalu-lintas (pikir si kampret) kok malah dirayakan dengan musik teu pararuguh kiyeu?.

Ternyata si kampret ini memang salah besar, bukan kecelakaan lalu-lintas yang memacetkan jalan, tapi adalah promosi akbar operator GSM setempat. Mampus nggak sih?.  Promosi macam beginilah yang memang digandrungi khalayak ramai di Liberia. Persis seperti jenis promosi tahun-tahun lawas di kampung si kampret saat perusahaan jamu tradisional itu menggelar hiburan gratis 'ndangdutan' atau 'layar-tancep', hanya bedanya mereka nggak mempertimbangkan kesusahan yang ditimbulkan dari kerumunan orang banyak ini, dan digelar di pasar umum ditengah-siang-hari-bolong-dan-hari-bekerja. Wah, it was a complete chaos!.

Pada platform bak truk trailer itu, bertahtalah seorang raja dengan kursi keemasan-nya, dimana perlahan-lahan ia membuka jubah kerajaannya satu persatu. Dengan diiringi musik jenis apa nggak jelas begitu, latar belakang narasi dibacakan oleh staff promosi yang berada di sudut truk itu dengan megaphone bersuara lantang bikin budek gendang telinga ini. Ceritanya operette di siang hari bolong digelar ditengah pasar..

                                                          Public Show

Dari anak-anak kecil sampai ke mamak-mamak pedagang pasar kontan jadi tumpah-ruah memenuhi badan jalan, tidak perduli kalau pantatnya itu hampir berciuman dengan bumper kendaraan. Menatap dengan konsentrasi penuh sembari mulutnya terjaga menyangap terbuka,memberikan fasilitas masuk agar lalat itu hinggap kedalam. Kacau, dah!

Saat semakin dekat kendaraan si kampret ini berada bersebelahan, tanpa membuang-buang waktu, dibidiklah sang "Raja" tadi berubah menjadi (kata si kampret, mah) "Dedemit Rawa" ketimbang manusia planet Mars yang sedemikian rupa dibedakin sampai putih semua sekujur tubuhnya, termasuk kolor yang dikenakannya. Sorak-sorai para penonton persis seperti menyaksikan goal sepakbola piala dunia. Ampun, deh!.

                                      Public Promotion (so-called) Robot

Alhamdulillah, setelah itu lalu-lintas kembali lancar..

Bicara soal promosi operator GSM setempat dan segudang cara-jitu mereka melakukan kampanye promosi dan iklan layanan mereka terhadap publik di Liberia, kalau dibandingkan dengan mereka (Operator GSM) di tanah air, tentulah beda, sebab sebagian besar pengguna jasa telekomunikasi nirkabel disini masih tergolong konsumen ekonomi lemah dengan ARPU (Average Revenue Per User) dibawah setara US$5-10/bulan-nya, hanya cukup untuk mengisi denominasi kartu isi ulang terkecil, yaitu US$ 1.00 dan paling top ya US$5.00 setiap bulan-nya agar masa aktif si kartu GSM tadi terus menyala dan mengandalkan 'flashing' atau missed-calls agar penerima telepon diujung sana menghubunginya kembali.

Beberapa spanduk dan reklame banyak disebar di berbagai penjuru kota dan dibarengi dengan perluasan jaringan di beberapa kota lainnya diluar Monrovia. Boleh dikatakan keberadaan misi PBB di Liberia bersama segenap staff peacekeepers yang notabene mencapai 9000an personil militer serta 1000an staff sipilnya, ditambah lagi para staff Badan PBB asing lalu Badan LSM internasional telah menjadikan subsidi pemasukan bagi kelangsungan hidup mereka. Sektor dunia usaha setempat yang mulai menggeliat menjadi salah satu lahan gemuk bagi para pemain penyedia jasa telekomunikasi di Liberia untuk menggarapnya.

Comium's Billboard     Comium's Billboard

Berkenalan dengan SPG (Sales Promotion Girls) cantik ala Monrovia dengan iming-iming bisa menang kendaraan kelas wahid macam Hummer H3 ini adalah salah satu trik pemasaran dan promosi yang terkini di Monrovia, maka jadilah pelanggan saya - meski kualitas sambungan telepon disini masih lebih sering 'tulalit'-nya ketimbang tersambungnya.


Red Hummer H3

Cellcom's Red Hummer     Red Cellcom

                                                 Sales Promotion Ladies

Simaklah salah satu cerita pengalaman konyol perihal mutu sambungan ponsel di negeri ini: "Alo, kenaitok tu mista titimu?" - "what?" , jadi janganlah heran kalau sambungan telepon yang pernah si kampret ini lakukan dan berbincang padamu lebih sering tulalit-nya. Apa? - coba-coba diulang lagi tadi nggak kedengeran.. :D

Labels: , , , , ,

Ksatrio Wojo Ireng @ Sunday, November 29, 2009

Antara Expat dan Ikan Sepat



Disudut ruang itu terlihat sepasang mata yang nampak sudah lelah, meski waktu menunjukkan baru pukul 2 siang. Biasanya sih jam segitu kebanyakan dari kita masih terasa nyaman lepas dari acara makan siang. Entah kenapa si kampret ini menangkap rasa frustrasi yang cukup mendalam dari rawut wajahnya. Nona muda bilangan akhir 20an itu nampak sangat serius dalam bekerja, ya dan si kampret ini mengenalnya baik, selain karena ia juga adalah kolega satu kantor yang sama-sama mengurusi urusan sakit kepala dengan berkas-berkas kontrak dan tender itu. Hari itu memang hari yang cukup panjang buat hampir semua dari kita di kantor, saya pun mendengar beberapa kali hembusan nafas panjang yang lama sudah terhela..keluar terdengar darinya. Tahu khan seperti apa bunyinya?: "Huuuuh....." - kira-kira begitu.

Personnel 171
Sore menjelang, sebelum pulang meninggalkan kantor, mampirlah si kampret ini duduk di sisi mejanya, menyapanya dengan senyum dimana tangan ini menyodorkan sepotong coklat toblerone yang sudah dikupas cangkang-nya dan berkata:


"Hi dear, I think you can use some chocolates, now.. here, have a piece.."

Sepasang mata bundar lebar itu kemudian bergerak sedikit meredup dan disusul oleh simpul yang melebar dari senyum pada wajahnya.. Memang si kampret ini (waktu itu) faham benar bagaimana mengusir gundah kolega sekantornya. Sambil bergegas bangkit, lalu berkata:

"See, I told you, chocolate is what you need now.. and time to go home, you need to get out of here.. come on, let's go - I'll take you home..".
Hari memang sudah sore, sekitar pukul 5.30 dan matahari terlihat sudah memancarkan rona merahnya dari jendela kantor ini yang menghadap ke samudra atlantik nan lepas itu.

Sebutlah si nona-muda-dengan-dada-membusung-berambut-ikal-asli-lengkap-dengan-sepasang-mata-lebar-jelita ini, anggap saja dia bernama Gaminet Gejebargejebur. Aslinya dari Addis Ababa, ibukotanya Ethiopia. Bagi yang faham negeri itu ada dimana, ya benar sekali, masih di bagian timur benua afrika ini. Seperti apa ya paras wajahnya orang Ethiopia?. Hm.. buat mereka yang sudah cukup lama berada di afrika mesti sudah bisa membedakannya. Nah untuk kawan-kawan di tanah air, paras rupa orang Ethiopia itu sedikit mirip dengan saudara kita di Maluku dan/atau Flores sana.. mungkin kebanyakan agak sedikit lebih hitam dari mereka, namun JELAS-JELAS masih lebih hitam legam rekan-rekan kita di Liberia sini.


Colleagues 811Gaminet, bergabung di misi PBB untuk Liberia sejak 2008, pada bulan Mei, si kampret ini masih ingat sekali hari pertama saat si nona-muda-dengan-dada-membusung-berambut-ikal-asli-lengkap-dengan-sepasang-mata-lebar-jelita ini masuk kantor, dia masih malu-malu, dan saat berbicara kepada kita, suaranya nyaris tidak terdengar sama sekali, yang kadang dirinya harus berjalan mendekatkan telinga ini agar bisa faham akan apa yang dia baru saja katakan itu. Santun dan tidak banyak cingcong sebagai anak-buah. Intinya dia adalah seorang 'team player' yang andal, tidak banyak urusan rumit yang harus si kampret ini jalanin dikala proses on-the-job-training berlangsung dan dalam tempo singkat dia pun sudah bisa dilepas sendiri mengerjakan porsinya. Singkatnya, si kampret ini sangat terbantu deh dengan kehadirannya.

Sudah menjadi tradisi di kantor si kampret ini, dan mungkin juga di akntor seksi lainnya di UNMIL ini bahwa rotasi internal para staff sudah menjadi acara rutin yang memberikan kesempatan bagi para staff yang berminat untuk bergeser posisi ke unit kerja lain, mengerjakan fungsi dan jenis pekerjaan lain, demikian agar para straff diberi kemampuan multi-fungsi dan faham akan proses pekerjaan secara keseluruhan. Itu adalah pola manajemen yang baik, terutama bagi pengembangan keandalan staff yang bersangkutan agar dapat menjadi staff-yang-serba-bisa. Namun masalah itu timbul seiring dengan proses estafet ini, dimana staff pengganti yang sedianya akan meneruskan pekerjaan dan fungsi si Mbak Gejebargejebur ini adalah staff setempat, maksudnya staff lokal orang Liberia, yang notabene kapasitas dan tingkat keandalannya masih dirasa oleh si Gaminet tidak akan mampu mengejar barang sedikitpun porsi pekerjaan dia. Intinya, si pengganti ini orangnya lelet, teledor dan tidak bisa bekerja secara independen. Itulah mengapa dirinya semakin sering menghela nafas.

Pada perjalanan pulang, ia pun bercerita:

".. I am so tired these days, to the point that once arrived at home, I have to hit the bed and went straight to sleep..."
Akhirnya dia urung turun dari kendaraan, kita melewati 15 menit berbincang di dalam kendaraan, maka berceritalah si nona-muda-dengan-dada-membusung-berambut-ikal-asli-lengkap-dengan-sepasang-mata-lebar-jelita ini akan tantangan yang dihadapinya di kantor. Dia mengeluhkan kinerja salah satu staff lokal yang diperbantukan kepadanya. Nah, benar juga - persis seperti yang si kampret ini duga. Itulah mengapa terlihat dia jelas menjadi frustrasi dan terkadang sering terlambat pulang dan terlambat masuk kerja dalam beberapa kesempatan. Delegasi penugasan yang semestinya bisa rampung diberikan kepada sang staff lokal itu ternyata membuahkan ekstra tambahan pekerjaan selanjutnya bagi si Mbak Gejebargejebur ini untuk memeriksanya kembali apakah sudah diselesaikan dengan baik dan benar. Setelah ditanya perihal latar belakang situasinya, si kampret ini kemudian bertanya kembali apakah dia terkena gejala malaria?, maka ia menjawab yang jawabannya bener-bener membuat kedua alis si kampret ini naik melengkung:

"I wish I had malaria..that you know what tablet to take or injection which will make it away, healed in days.. and this one is not!"
Makin bingunglah jadinya.. akhirnya ditanyalah dengan serius dikala kendaraan ini tiba didepan gerbang pagar rumahnya Gaminet. Dari ceritanya, memang kebanyakan kasus, malah harus dikerjalan ulang sendiri. Sebagai salah satu staff senior di kantor, memang si kampret ini sudah faham betul akan situasi ini, namun dengan keterbatasan staffing yang ada saat ini, kondisi terburuk adalah karena staff expat berkewajiban untuk membina staff setempat sebaik-baiknya, akan berujung si kampret ini mesti menatar kembali dan harus extra sabar, saat si Gaminet benar-benar pindah karena rotasi internal itu. Nasib-nasib!.
"Ok, there is something bothering you and chocolates may not be the cure, unless you tell me then I won't be able to help you"


Memang tidak dinyana bahwa staff expat di misi PBB ini mendapat sejumlah tunjangan dan besaran gaji yang kalau dibandingkan dengan mereka para staff lokal bisa 3 atau bahkan lebih dari 5-kali lipat darinya. Namun demikian memang, porsi dan kadar kompleksitas, serta jumlah jam kerja hampir semua dari staff expat ini berbanding lurus dengan si besaran moneter tadi. Ya bisa dikatakan cukup fair-lah, belum lagi 'separation' terhadap kehidupan normal dan terpisan dari sanak-famili adalah satu paket kondisi yang menyertai besaran tunjangan itu.


IMG_0154


Meski tidak semua para kolega staff lokal itu kapabilitasnya menjulang, pengecualian tetap ada dan si kampret ini juga bangga atas rekan-rekan staff lokal yang kapabilitasnya makin kompetitif. Hal ini kembali mengingatkan si kampret bahwa keandalan para staff bule lainnya tidaklah berbeda jauh, asalkan diri ini mau belajar dan rela ditempa demi kebaikan untuk bisa mensejajarkan diri dengan mereka lainnya. Terlepas dari perbedaan kapasitas dan tunjangan antara "expat" dan "ikan sepat" itu sangatlah subjective dan kembali berpulang kepada pengembangan diri masing-masing.

Saat menjadi "Expat", maka jadilah Expat yang membumi dan terus membina jajaran staff lokalnya, agar keberadaan kita senantiasa dicintai oleh para staff lokal, bukan sebaliknya; dirasani, dibenci dan malah dihindari karena  satu dan banyak hal. Bagi rekan-rekan yang di kantornya sebagai staff lokal, seyogyanya bisa andal dan meningkatkan kinerjanya agar mampu berdiri sejajar kometensinya dengan para expat itu. Tidak sedikit kok, banyak contoh staff expat yang malah mesti diajari oleh staff lokalnya. :-)

Tapi tetep nih, si kampret ini pasti akan kerepotan ngajari si ikan sepat ini lagi.. Kacau deh!.

Labels: , ,

Ksatrio Wojo Ireng @ Sunday, November 22, 2009

Profile

Luigi Pralangga, a UN staff member, currently serving the peacekeeping mission in Liberia - West Africa.

Messages


Polling

Just Updated

Archieves

Links

The Additionals



Becoming UN Volunteer? Come here!




Enter your Email


Preview | Powered by FeedBlitz



Copyright©2006
[My African Journey]
All rights reserved.
Reproduction in whole
or in part without permission
is prohibited.

hits.