Sudah lama sekali memang si kampret ingin bercerita perihal yang satu ini - selalu ada saja yang mengganggu dan membuyarkan hingga ia (ide menulisnya) kandas ditengah jalan. Setelah hampir 2 minggu akhirnya si kampret ini teringat kembali, mengapa? Ya, karena rasa gatal-gatal di pantat ini terus menggoda dan mengharuskan untuk berhenti sejenak dari berjalan untuk menggaruk-garuk hingga sensasi gatal itu sirna. Ada apa sih sebenarnya?.
Ya, bermula dari rumah..
bukan rumah yang di tanah air, tapi rumah dimana si kampret ini mengontrak selama tinggal dan bekerja di misi PBB di Liberia. Sejak bulan Mei 2008.
Menempati rumah kontrakan baru, sebuah kompleks perumahan khusus staff bernama
Riverview Housing Compound, sekitar 14 km jauhnya dari kantor si kampret, dan saat masuk menempati rumah baru, sudah ada 3 orang rekan penghuni di rumah itu, maklumlah kita semua disini selalu berbagi akomodasi
(shared-accomodation) termasuk itu
bedinde (Baca: Pengurus Rumah) yang bekerja khusus melayani keperluan cuci-baju, bebenah dan kepentingan penghuni rumah itu - singkatnya si kampret tidak bisa membawa serta pembantu kesayangan dari rumah lama-nya ke rumah yang baru.
Ya, awalnya bermula dari sini, lain pembokat rumah tangga - lain pula gaya bekerjanya, dan sudah pasti banyak perihal yang membuat ini bersilang-tanggap/pengertian akan bagaimana sesuatu mesti dikerjakan. Saat masih tinggal di bilangan Sinkor, pembantu lama yang sudah mengurus selama lebih dari 2,5 tahun sudah punya kepiawaian dalam banyak hal, sampai mahir memasak masakan ala Indonesia meski itu terbatas pada menu masakan yang umumnya terpampang pada sisi belakang bumbu instant indofood yang berbahasa Inggris itu.
Ya, bermula dari si pembokat rumah yang baru ini, ada beberapa hal yang kurang sreg/berkenan akan bagaimana ia melakukan sesuatunya di rumah. Berpenghasilan US$ 150.00/bulan, menangani 3 orang penghuni, 2 diantaranya
super workaholic yang jarang pulang dan tiba di rumah tepat waktu,j arang bertemu antar sesama, dan yang sudah pasti jarang menggunakan dapur untuk memasak, sementara si kampret ini memang doyan memasak untuk bekal makan siang dan saat akhir pekan. Itulah mengapa dahi ini dibuatnya berkerut sengit dikala ia berkata kepada si kampret ini:
"I don't do this, I don't do that, to include cooking.." - dalam hati sudah bersemangat untuk menyemprotnya kembali:
"Enak bener, cuman bebenah colek-sana-sini, dengan penghasilan segitu besar...", sementara pembokat sebelumnya sudah mengerjakan ini dan itu tidaklah digaji sebesar si Sarah.
Ya, namanya Sarah, entah siapa nama belakangnya, namun kali ini ijinkanlah saya memberinya nama belakang dan lengkapnya sebagai:
Sarah Susune-Nangtung.
"Sarah, Listen, other bossman requires you to do less, but for me - this is your new tasks.. and I will check that you do them correctly.. if you don;t like it I will find someone else.."
Maka terdiamlah dia sembari sepasang matanya terlihat terbuka melebar seperti mau lompat keluar begitu,
Sabodo amat!. Sejak itu mulailah dia diajarin bagaimana cara memasak ala Indonesia. Menu seperti
Rendang, Gulai Ayam, Sate Ayam, Ayam Panggang bumbu Bali, Nasi Goreng dan lain sebaginya - ini dia hasil penataran intensif itu.
Banyak memang penyesuaian dari sisi si kampret ini, perihal kesabaran agar bisa mengajarkan beberapa hal, termasuk itu perihal bagaimana tingkat kebersihan saat ia membersihkan dan merapikan kamar, menangani cucian, melipat dan terutama menyetrika pakaian. Lupa sih kapan persisnya, namun si kampret ini yakin sudah menjelaskan dengan seksama kepadanya bahwa untuk celana selain bahan cotton tidak perlu disetrika dengan garis didepan layaknya setelan jas & celana, serta untuk TIDAK menyetrika si kolor (Baca: Celana Dalam) sama panasnya dengan menyetrika pakaian yang tebal.
Ya, ini bermula dari si kolor yang disetrika kepanasan, hingga pada bagian benang bordirannya menjadi meleleh dan menggumpal, membentuk sisi yang tajam dan terasa menusuk-nusuk di pantat ini saat kenakan dan dipakai berjalan. Jadi, si kampret ini harus sebentar-sebentar berhenti sejenak menggaruk-garuk "belakang" setiap saat, dan meski saat sedang duduk pun rasanya cenat-cenut saja ini si kolor, persis seperti celana dalam dimana ada selusin kutu busuk bersemayam didalamnya dan mengigit kesana-kemari. Menyebalkan bukan.
Nah, si kampret ini menyebutnya: Kolor Tajam dan jumlah kolor tajam yang dihasilkan oleh si Sarah ini bukan cuman satu, sodara-sodara!. Jadi ada beberapa biji si kolor tajam itu bertengger di lemari pakaian, dan si kampret ini sudah memisahkannya di sisi pojok dalam untuk tidak dipakai lagi dan tidak bercampur dengan kolor yang halus, lembut dan nyaman.
Ya, ini bermula dari keteledoran si kampret ini sendiri saat pagi itu tidak melihat dengan benar tumpukan kolor yang mana yang diambil, langsung main pake saja karena sudah bangun kesiangan.. walhasil pas pagi nyampe di kantor mulailah ditandai dengan gagaro-bujur (Baca: Garuk-garuk bokong). Ternyata bekerja di misi peacekeeping ini bukan hanya berhadapan dengan bahaya dari peluru tajam saja ya..?
Labels: Emotions, Housing in Mornovia, Liberia, Monrovia, UN Staff Accomodation
Ksatrio Wojo Ireng @ Thursday, May 14, 2009